Apakah mencintai Agama melebihi Ibu sebuah kejahatan ?

Sepintas kedengaran iya. Manusia mana coba yang dengan sadar mau menahun menahan derita untuk membesarkan, dan memahamkan manusia lain untuk mencintai sesuatu melebihi dirinya sendiri ?.

Tapi, jika cinta adalah satu-satunya jawaban untuk menciptakan perdamaian, maka siapa atau apa yang seharusnya di cintai ?. Jika setiap manusia menempatkan ibu sebagai objek cinta tertinggi, maka bukankah yang terjadi adalah perang dan pertikaian ?, mengingat ibu pun masih manusia yang mungkin saja khilaf, salah menilai sesuatu.

Tentu tidak lantas berarti juga bahwa mencintai Agama pasti menciptakan perdamaian, buktinya tidak sedikit teori yang menjelaskan Agama sebagai sumber konflik. Lebih jauh, dibanding Agama bukankah kesejahteraan (isu sosial-ekonomi) lebih mungkin menjadi sumber konflik ?.

Disisi lain, hampir bisa dipastikan bahwa objek cinta yang mendamaikan tidak mungkin -juga merupakan- sumber konflik. Mengenai tafsir dari objek cinta yang bukan merupakan sumber konflik, hal ini sangat berdasar pada kemampuan si penafsir.

Bahkan, tanpa menjelaskan objeknya mencintai itu sendiri tidak jarang adalah sebuah kejahatan. Demikian rapuh dan dinamisnya manusia, sehingga dibutuhkanlah hukum untuk memberi batas.

Dengan demikian, rasanya lebih penting dan lebih dulu sebaiknya menamatkan diskusi mengenai batas, ketimbang mencari jawaban dari pertanyaan pada judul artikel ini. Karena seluruhnya punya batas sampai disebut kejahatan.

Mau punya Tema WordPress unik ?, atau punya desain kesukaan yang ingin dibuat menjadi Tema WordPress ?

Pesan Jasa Desain Tema Wordpress Sekarang

Berikan tanggapan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.